Tempat WisataWisata DemakWisata Jawa Tengah

Asal Usul Sejarah Kota Demak Jawa Tengah

Asal Usul Sejarah Kota Demak Jawa Tengah

Kabupaten Demak, adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah.
Ibukotanya adalah Demak. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di
barat, Kabupaten Jepara di utara, Kabupaten Kudus di timur, Kabupaten
Grobogan di tenggara, serta Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di
sebelah barat.
Kata Demak itu adalah berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu Dhima’ yang
artinya rawa. Hal ini mengingat tanah di Demak adalah tanah bekas rawa
alias tanah lumpur. Bahkan sampai sekarang jika Musim Hujan di daerah
demak sering digenangi air, dan pada musim kemarau tanahnya banyak yang
retak, maklumlah karena tanahnya tanah bekas rawa alias tanah lumpur.
Karena tanah demak adalah tanah labil, maka jalan raya yang dibangun
gampang rusak, oleh karena itu jalan raya di Demak menggunakan beton.

Mengenai ekologi Demak, DR.H.J. De Graaf juga menulis bahwa letak Demak
cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Hal ini
disebabkan karena selat yang ada di depannya cukup lebar sehingga perahu
dari Semarang yang akan menuju Rembang dapat berlayar dengan bebas
melalui Demak. Namun setelah abad XVII Selat Muria tidak dapat dipakai
lagi sepanjang tahun karena

pendangkalan.Tanggal 28 Maret 1503 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Demak. Hal
ini merujuk pada peristiwa penobatan Raden Patah menjadi Sultan Bintoro
yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal atau 12 Mulud Tahun 1425 Saka
(dikonversikan menjadi 28 Maret 1503).Dalam Babat Tanah Jawi, tempat
yang bernama Demak berawal dari Raden Patah diperintahkan oleh gurunya
(Sunan Ampel) agar merantau ke Barat dan bermukim di sebuah tempat yang
terlindung hutan/tanaman Gelagah Wangi letaknya berada di Muara Sungai
Tuntang yang sumbernya berada di lereng Gunung Merbabu (Rawa Pening).

Menurut Prof. Soetjipto Wirjosoeprapto, setelah hutan Gelagah Wangi
ditebang dan didirikan tetrukan (pemukiman), baru muncul nama Bintoro
yang berasal dari kata bethoro (bukit suci bagi penganut agama hindu).
Pada kawasan yang berada di sekitar muara Sungai Tuntang, bukit sucinya
adalah Gunung Bethoro (Prawoto) yang sekarang masuk daerah Kabupaten
Pati.Ada beberapa pendapat mengenai asal nama kota Demak, diantaranya :

Prof.DR. Hamka menafsirkan kata Demak berasal dari bahasa Arab “dama”
yang artinya mata air. Selanjutnya penulis Sholihin Salam juga
menjelaskan bahwa Demak berasal dari bahasa Arab diambil dari kata
“dzimaa in” yang berarti sesuatu yang mengandung air (rawa-rawa). Suatu
kenyataan bahwa daerah Demak memang banyak mengandung air; Karena
banyaknya rawa dan tanah payau sehingga banyak tebat (kolam) atau
sebangsa telaga tempat air tertampung. Catatan : kata delamak dari
bahasa Sansekerta berarti rawa.
Menurut Prof. Slamet Mulyono, Demak berasal dari bahasa Jawa Kuno
“damak”, yang berarti anugerah.

Bumi Bintoro saat itu oleh Prabu
Kertabhumi Brawijaya V dianugerahkan kepada putranya R. Patah atas bumi
bekas hutan Gelagah Wangi. Dasar etimologisnya adalah Kitab Kekawin
Ramayana yang berbunyi “Wineh Demak Kapwo Yotho Karamanyo”.
Berasal dari bahasa Arab “dummu” yang berarti air mata. Hal ini
diibaratkan sebagai kesusahpayahan para muslim dan mubaligh dalam
menyiarkan dan mengembangkan agama islam saat itu. Sehingga para
mubaligh dan juru dakwah harus banyak prihatin, tekun dan selalu
menangis (munajat) kepada Allah SWT memohon pertolongan dan perlindungan
serta kekuatan.

Demak merupakan Kasultanan ketiga di Nusantara atau keempat di Asia
Tenggara. Ibukotanya Demak yang sekaligus digunakan sebagai pusat
pemerintahan dan pusat penyebaran agama Islam yang diprakarsai oleh para
Wali (Wali Songo). Ketika orang Portugis datang ke Nusantara, Majapahit
yang agung sudah tidak ada lagi. Menurut catatan pada tahun 1515
Kasultanan Bintoro sudah memiliki wilayah yang luas dari kawasan
induknya ke barat hingga Cirebon. Pengaruh Demak terus meluas hingga
meliputi Aceh yang dipelopori oleh Syeh Maulana Ishak (Ayah Sunan Giri).

Kemudian Palembang, Jambi, Bangka yang dipelopori Adipati Aryo Damar
(Ayah Tiri Raden Patah) yang berkedudukan di Palembang; dan beberapa
daerah di Kalimantan Selatan, Kotawaringin (Kalimantan Tengah). Menurut
hikayat Banjar diceritakan bahwa masyarakat Banjar dulu yang
meng-islam-kan adalah penghulu Demak (Bintoro) dan yang pertama kali
di-islam-kan adalah Pangeran Natas Angin yang kelak dimakamkan di
Komplek Pemakaman Masjid Agung Demak.

Di daerah Nusa Tenggara Barat
perkembangan agama Islam dipelopori oleh Ki Ageng Prapen dan Syayid Ali
Murtoko, adik kandung Sunan Ampel yang berkedudukan di Bima.Pada masa Kasultanan Demak diperintah oleh Sultan Trenggono, wilayah
nusantara benar-benar dapat dipersatukan kembali. Terlebih lagi dengan
adanya Fatahillah, Putera Mahkota Sultan Samodera Pasai yang menjadi
menantu Raden Patah.

Dialah yang berhasil mengusir orang-orang Portugis
dari kota Banten dan berhasil menyatukan kerajaan Pasundan yang sudah
rapuh. Dengan demikian seluruh pantai utara Jawa Barat sampai Panarukan
Jawa Timur (1525-1526) dikuasai oleh Kasultanan Bintoro. Sementara itu
Kediri takluk pada tahun 1527 yang berturut-turut kemudian diikuti oleh
kawasan yang ada di pedalaman. Sampai akhirnya Blambangan yang letaknya
berada di pojok tenggara Jawa Timur menyerah tahun 1546. Disinilah
Sultan Trenggono gugur di medan pertempuran ketika berhadapan dengan
Prabu Udoro (Brawijaya VII).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button